Minggu, 22 Maret 2015

Asas-asas pengetahuan lingkungan

Tugas Pengetahuan Lingkungan 1
Nama:Dimas Khameswara
Kelas: 3ID01
NPM:32411119
Asas-asas Ilmu Lingkungan
           Ilmu lingkungan yang sudah berkembang dan banyak mengeluarkan hasil, model dan teori yang semakin meningkat jumlahnya harus didasari oleh asas yang kokoh dan kuat. Berikut ini adalah asas-asas ilmu lingkungan yang akan dijelaskan lebih detail.
a.      Asas 1
        Semua energi yang memasuki sebuah organisme hidup populasi atau ekosistem dapat dianggap sebagai energi yang tersimpan atau terlepaskan. Energi dapat diubah dari suatu bentuk ke bentuk yang lain, tetapi tidak dapat hilang, diciptakan dan dihancurkan.
Asas ini menerangkan bahwa energi dapt diubah-ubah, dan semua energi yang memasuki jasad hidup, populasi atau ekosistem dapat dianggap sebagai energi yang tersimpan atau terlepaskan, sehingga sistem kehidupan dapat dianggap sebagai pengubah energi.

b.      Asas 2
        Tak ada sistem pengubahan energi yang betul-betul efisien
Asas ini sama dengan hukum termodinamika kedua yang banyak dipakai dan berlaku dalm fisika. Energi tak pernah hilang dari alam raya, tetapi energi tersebut akan terus diubah ke dalam bentuk yang kurang bermanfaat. Misalnya hewan mengambil energi dalam bentuk makanan yang padat dan bermanfaat, tetapi panas yang keluar dari tubuh hewan karena lari, terbang atau berenang terbuang tanpa guna. Oleh karena itu pemakaina energi yang sebaik-baiknya oleh jasad hidup merupakan suatu hal yang sangat penting.

c.      Asas 3
      Materi energi, ruang, waktu dan keanekaragaman, semuanya termasuk kategori sumber alam.
Perubahan energi oleh sistem biologi berlangsung pada kecepatan yang sebanding dengan adanya materi dan energi di alam lingkungannya. Tetapi apakah ruang juga dapat digolongkan sebagai sumber alam ? Kalau ruang begitu sempit bagi suatu populasi yang tinggi kepadatannya, ada kemungkinan terjadinya gangguan terhadap proses pembiakan. Tetapi, sebalinya ruang yang terlalu luas berakibat jarak antara individu dalam sebuah populasi menjadi terlalu jauh. Ruang juga dapat memisahkan jasad hidup dari sumber bahan makanan yang dibutuhkannya, yang jauh dekatnya menentukan perkembangan populasi jasad hidup itu. Oleh karena itu, pengaruh ruang secara asas adalah beranalogi dengan materi dan energi sebagai sumber alam.
Waktu sebagai sumber alam juga tidak merupakan besaran yang berdiri sendiri. Misalnya seekor singa sering harus menahan lapar yang cukup lama dalam melakukan pengintaian, sebelum berhasil menerkam mangsanya. Jadi, itu semua bergantung pada adanya cukup waktu dan energi untuk menempuh jarak antara tempat semula dan tempat tujuan.
Keanekaragaman disebut juga sumber alam. Semakin beranekaragam jenis makanan suatu spesies makin berkurang bahanya bagi spesies itu menghadapi perubahan lingkungan uang dapat memusnahkan sumber makanannya. Sebaliknya, suatu spesies yang hanya memakan satu jenis makanan akan mudah terancam bahay kelaparan, meskipun makanannya musnah oleh sebab yang terjadi pada lingkungannya.

d.        Asas 4   
     Untuk semua kategori sumber alam, kalau pengadaannya sudh mencapai optimum, pengaruhunit kenaikannya sering menurun dengan penambahan sumber alam itu sampai ke suatu tingkat maksimum. Melampaui batas maksimum ini tak akan ada pengaruh yang menguntungkan lagi.
     Untuk semua kategori sumber alam (kecuali keanekaragaman dan waktu) kenaikan pengadaannya yang melampaui batas maksimum, bahkan akan berpengaruh merusak karenakeracunan ini adalah asas penjenuhan. Untuk banyak gejala sering berlaku kemungkinan penghancuran yang disebabkan oleh pengadaan sumber alam yang sudah mendekati batas maksimum.
     Dalam asas diatas tekandung arti, bahwa pengadaan sumber alam mempunyai batas optimum yang berarti pula batas maksimum, maupun batas minimum pengadaan sumber alam akan mengurangi daya kegiatan sistem biologi. Karena poengadaan sumber alam bagi suatu populasi, maka naik turunnya jumlah individu populasi itu bergantung pula kepada pengadaan sumber alam itu pada suatu jumlah tertentu.

e.       Asas 5
        Ada dua jenis sumber alam dasar, yaitu sumber alam yang pengadaannya dapat merangsang penggunaaan seterusnya, dan yang tak mempunyai daya rangsang penggunaan lebih lanjut.
   Contoh: suatu jenis hewan sedang mencari berbagai sumber bahan makanan, kemudian diketahui suatu jenis makanan tiba-tiba menjadi sangat banyak jumlah di alam, maka hewan tersebut akan memusatkan perhatiannya kepada penggunaan jenis makanan tersebut. Jadi, kenaikan pengadaan sumber alam (makanan) merangsang kenaikan pendayagunaannya.

f.         Asas 6
    Individu dan spesies yang mempunyai lebih banyak keturunan daripada saingannya cenderung berhasil mengalahkan saingannya.
Umumnya, suatu spesies atau komunitas yang dapat bertahan dalam suatu keadaan lingkungan tertentu, ialah yang dalam keseimbangan alam secara keseluruhan  mempunyai daya pembiakan yang lebih tinggi daripada spesies atau komunitas yang ingin mencoba menguasai lingkungan tersebut. Kalau kemudian keadaan lingkungan berubah, maka spesies lain yang lebih adaptif daripada spesies yang sudah ada sebelumnya, yang akan dapt bertahan.

g.       Asas 7
        Kemantapan  keanekaragaman suatu komunitas lebih tinggi di alam lingkungan yang mudah diramal.
Ialah adanya keteraturan yang pasti pada pola faktor lingkungan dalam periode yang relatif lama.  Lingkungan yang stabil secara fisik merupaka sebuah lingkunga yang terdiri atas banyak spesies. Dari yang umum hingga yang jarang dijumpai. Keadaan iklim yang stabil sepanjang waktu yang lama sekali tidak saja akan melhirkan keanekaragaman spesies yang tinggi, tetapi juga akan menimbulkan kenekaragaman pola penyebaran kesatuan populasi.

h.      Asas 8
       Sebuah habitat dapat jenuh atau tidak oleh keanekaragaman takson, bergantung kepada bagaimana niche dalam lingkungan hidup itu dapat memisahkan takson tersebut.
Kelompok taksonomi tertentu dari suatu jasad hidup ditandai oleh keadaan lingkungannya yang khas (niche), tiap spesies mempunyai niche tertentu. Spesies dapat hidup berdampingan dengan spesies lain tanpa persaiangan, karena masing-masing mempunyai keperluan dan fungsi yang berbeda di alam.
Pada asas ini menyatakan bahwa setiap spesies mempunyai nicia tertentu, sehingga spesies-spesies tersebut dapat berdampingan satu sama lain tanpa berkompetisi, karena satu sama lain mempunyai kepentingan  dan fungsi yang berbeda di alam. Tetapi apabila ada kelompok taksonomi yang terdiri atas spesies dengan cara makan serupa, dan toleran terhadap lingkungan yang bermacam-macam serta luas, maka jelas bahwa lingkungan tersebut hanya akan ditempati oleh spesies yang keanekaragamannya kecil.

i.        Asas 9
         Keanekaragaman komunitas sebanding dengan biomassa dibagi produktivitas.
T = K x (B/P) ;  D ≈ T
T = waktu rata-rata penggunaan energi
K = koefisien tetapan
B = biomassa
P = produktivitas
D = keanekaragaman
Asas ini mengandung arti, bahwa efisiensi penggunaan aliran energidalam sistem biologi akan meningkat dengan meningkatnya kompleksitas organisasi sistem biologi dalam suatu komunitas. Pada asas ini menurut Morowitz (1968) bahwa adanya hubungan antara biomassa, aliran energi dan keanekaragaman dalam suatu sistem biologi.

j.        Asas 10
        Pada lingkungan yang stabil perbandingan antara biomasa dengan produktivitas (B/P) dalam perjalanan waktu naik mencapai sebuah asimtot.
Sistem biologi menjalani evolusi yang Mengarah kepada peningkatan efisiensi penggunaan energi dalam lingkungan fisik yang stabil, dan memungkinkan berkembangnya keaneka-ragaman.
Dalam asas ini dapat disimpulkan bahwa sistem biologi mengalami evolusi yang mengarah kepada peningkatan efisiensi penggunaan energi dalam lingkungan fisik yang stabil, yang memungkinkan berkembangnya keanekaragaman. Dengan kata lain kalau kemungkinan produktivitas maksimum sudah ditetapkan oleh energi matahari yang masuk kedalam ekosistem, sedangkan keanekaragaman dan biomassa masih dapat meningkat dalam perjalanan waktu, maka jumlah energi yang tersedia dalam sistem biologi itu dapat digunakan untuk menyokong biomassa yang lebih besar. Apabila asas ini benar, maka dapat diharapkan bahwa dalam komunitas yang sudah berkembang lanjut pada proses suksesi, rasio biomassa produktivitas akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan komunitas yang masih muda. Pada kenyataan di alam memang demikian, sebab spesies bertambah, dan ditemukan pula tumbuhan berkayu sehingga diperoleh stratifikasi.
Implikasi dari asas ini bahwa sebuah komunitas dapat dibuat tetap muda  buatan lahan pertanian dengan jalan mengambil daun-daunannya untuk makanan hewan.

k.       Asas 11
       Sistem yang sudah mantap (dewasa) akan mengekploitasi yang belum mantap (belum dewasa).
Ekosistem, populasi atau tingkat makanan yang sudah dewasa memindahkan energi,  biomasa, dan keanekaragaman dari tingkat organisasi yang belum dewasa. Dengan kata lain, energi, materi, dan keanekaragaman mengalir melalui suatu kisaran yang menuju ke arah organisasi yang lebih kompleks. (Dari subsistem yang rendah keanekara-gamannya subsistem yang tinggi keanekaragamannya).
Arti dari asas ini adalah  pada ekosistem, populasi  yang sudah dewasa memindahkan energi, biomassa, dan keanekaragaman tingkat organisasi ke arah yang belum dewasa. Dengan kata lain, energi, materi dan keanekaragaman mengalir melalui suatu kisaran yang menuju ke arah organisasi yang lebih kompleks, atau dari subsistem yang lebih rendah keanekaragamannya ke subsistem yang lebih tinggi keanekaragamannya

l.        Asas 12
      Kesempurnaan adaptasi suatu sifat atau tabiat bergantung pada kepentingan relatifnya dalam keadaan suatu lingkungan.
Populasi dalam ekosistem yang belum mantap, kurang bereaksi terhadap perubahan lingkungan fisikokimia dibandingkan dengan populasi dalam ekosistem yang sudah mantap. Populasi dalam lingkungan dengan kemantapan fisiko kimia yang cukup lama, tak perlu berevolusi untuk meningkatkan kemampuannya beradaptasi dengan keadaan yang tidak stabil.
Asas ini merupakan kelanjutan dari asas 6 dan 7. Apabila pemilihan (seleksi) berlaku, tetapi keanekaragaman terus meningkat di lingkungan yang sudah stabil, maka dalam perjalanan waktu dapat diharapkan adanya perbaikan terus-menerus dalam sifat adaptasi terhadap lingkungan. Jadi, dalam ekosistem yang sudah mantap dalam habitat (lingkungan ) yang sudah stabil, sifat responsive terhadap fluktuasi faktor alam yang tak terduga ternyata tidak diperlukan. Yang berkembang justru adaptasi peka dari perilaku dan biokimia lingkungan sosial dan biologi dalam habitat itu. Evolusi pada lingkungan yang sukar ditebak perubahan faktor alamnya cenderung memelihara daya plastis anggota populasi. Sedangkan evolusi pada lingkungan yang mantap, beranekaragam secara biologi cenderung menggunakan kompleksitas itu untuk bereaksi terhadap kemungkinan beraneka-macam perubahan.
Implikasi dari asas ini bahwa sesungguhnya tidak ada sebuah strategi evolusi yang terbaik dan mandiri, semua tergantung pada kondisi lingkungan fisik. Kesimpulannya bahwa populasi pada ekosistem yang belum mantap, kurang bereaksi terhadap perubahan lingkungan fisikokimia dibandingkan dengan populasi  pada ekosistem yang sudah mantap.

m.      Asas 13
      Lingkungan yang secara fisik mantap memungkinkan terjadinya penimbunan keanekaragaman biologi dalam ekosistem yang mantap, yang kemudian dapat menggalakkan kemantapan populasi lebih jauh lagi.
Asas ini merupakan penjabaran dari asas 7, 9 dan 12. Pada komunitas yang mantap, jumlah jalur energi yang masuk melalui ekosistem meningkat, sehingga apabila terjadi suatu goncangan pada salah satu jalur, maka jalur yang lain akan mengambil alih, dengan demikian komunitas masih tetap terjaga kemantapannya. Apabila kemantapan lingkungan fisik merupakan suatu syarat bagi keanekaragaman biologi, maka kemantapan faktor fisik itu akan mendukung kemantapan populasi dalam ekosistem yang mantap dan komunitas yang mantap mempunyai umpan-balik yang sangat kompleks. Disini ada hubungan antara kemantapan ekosistem dengan efisiensi penggunaan energi.
                
n.         Asas 14
     Derajat pola keteraturan naik-turunnya populasi tergantung pada jumlah keturunan dalam sejarah populasi sebelumnya yang  nanti akan mempengaruhi populasi itu.
Asas ini merupakan kebalikan dari asas ke 13, tidak adanya keanekaragaman yang tinggi pada rantai makanan dalam ekosistem yang belum mantap, menimbulkan derajat ketidakstabilan populasi yang tinggi.
Ciri-Ciri Lingkungan/ Komunitas yang Mantap:
• Jumlah jalur energi yang masuk melalui ekosistem meningkat (banyak)
• Lingkungan fisik mantap (mudah“diramal”)
• Sistem control umpan balik (feedback) komunitas sangat kompleks
• Efisiensi penggunaan energi
• Tingkat keanekaragaman tinggi
DAFTAR PUSTAKA

Santoso, Budi,  1999, “Ilmu Lingkungan Industri”, Universitas Gunadarma, Jakarta.


Soeriatmadja,RE. 1981 . “Ilmu Lingkungan”. Bandung: ITB

Ekologi dan ilmu lingkungan

Tugas Pengetahuan Lingkungan 1
Nama:Dimas Khameswara
Kelas: 3ID01
NPM:32411119
Ekologi dan Ilmu Lingkungan
Ekologi merupakan salah satu ilmu bagi ilmu lingkungan. Ekologi berasal dari bahasa Yunani “ oikos” (rumah tangga) dan “logos” (ilmu), secara harfiah ekologi berarti ilmu tentang rumah tangga makluk hidup. Merupakan rumah tangga makhluk hidup adalah lingkungan hidupnya. Disini mereka saling berinteraksi dengan sesamanya dan dengan komponen-komponen yang tidak hidup dalam mempertahankan kelangsungan sistem.
Ada beberapa definisi tentang ekologi :
a. Odum, 1971
Ekologi adalah kajian struktur dan fungsi alam, tentang struktur dan interaksi antara sesama organisme dengan lingkungannya.
b. Miller, 1975
Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme dan sesamanya serta dengan lingkungan tempat tinggalnya.
c. Otto Soemarwoto
Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
  Ekologi hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya (ekosistem) bersifat obyektif, manusia dipandang sama dengan makhluk hidup yang lain. Berdasarkan ilmu lingkungan, manusis dibedakan dengan makhluk lain, pandangan hubungan antara manusia dengan lingkungan bersifat subyektif. Ilmu lingkungan ini mempunyai hak khusus, semua dipandang dari kepentingan manusia, tetapi manusia juga harus mempunyai tanggung jawab yang paling besar terhadap lingkungannya dimana tanggung jawab ini tidak mungkin diserahkan kepada makhluk lain.


Minggu, 09 November 2014

TULISAN 1 KEWIRAUSAHAAN

TULISAN 1 KEWIRAUSAHAAN
PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN

Wirausaha dari segi etimologi berasal dari kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, berbuat sesuatu. Sedangkan, Pengertian Kewirausahaan (Inggris: Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian. Jadi, secara umum pengertian kewirausahaan adalah kegiatan penciptaan bidang usaha yg baru.

Pengertian Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon misalnya, memberikanpengertian kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu.
Berikut ini beberapa Pengertian Kewirausahaan Menurut para Ahli:
  • Soeparman Spemahamidjaja: Kewirausahaan adalah suatu kemampuan (ability) dalam berfikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak tujuan, siasat kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup.  
  • S. Wijandi:Kewirausahaan: adalah suatu sifat keberanian, keutamaan dalam keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri.  
  • Richard Cantillon: Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment).  
  • Drucker: Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different).  
  • Zimmerer: Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan.. 
  • Soeharto Prawiro: Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (star-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth).  
  • Achmad Sanusi: Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis

Sekian uraian tentang Pengertian Kewirausahaan Menurut para Ahli, semoga bermanfaat.

Minggu, 02 November 2014

TUGAS KEWIRAUSAHAAN 1

TUGAS 1 KEWIRAUSAHAAN
10 CIRI SEORANG ENTERPRENEUR SUKSES
Mungkin banyak sebagian dari Anda yang ingin menjadi seorang enterprenuer, tetapi Anda masih ragu, apakah Anda betul-betul seorang entrepreneur atau bukan? Jika Anda sedang berselancar di internet, cobalah Googling kalimat berikut “Apakah Anda seorang entrepreneur?” Banyak sekali pertanyaan kepada diri Anda sendiri sebelum memulai sebuah usaha. Nah, Berikut ini adalah 10 ciri-ciri seorang entrepreneur sukses yang dikumpulkan dari berbagai sumber.
1. Selalu mencari peluang
Ini adalah suatu definisi awal tentang seorang entrepreneur. Setiap masalah yang Anda rasakan, lihat, dengar adalah sebuah peluang. Tapi jangan hanya sebatas mencari sebuah peluang usaha, Anda harus melakukan action terhadap peluang yang ada didepan mata. Ketika Anda hanya melihat peluang dan merencanakannya, itu tidak akan berarti banyak bagi diri Anda.
2. Selalu siap bekerja sepanjang waktu, setiap hari, dan waktu yang tidak bisa ditentukan?
Seorang enrepreneur bekerja bukan terpaku pada jam kerja dari pukul 09.00 – 17.00 , terkadang 09.00 – 09.00 , bahkan 09.00 – 02.00,dll. Ada kalanya mereka bekerja sepanjang hari tanpa henti. Hal ini biasanya dialami oleh para enterpreneur baru. Mereka akan cenderung takut gagal, hingga tidak memikirkan waktu bekerja mereka.
3. Memiliki kesehatan yang baik
Anda tidak dapat menjawab “Ya” pada nomor 2 diatas, sebelum Anda diberikan kesehatan dan disiplin sepanjang waktu. Anda bisa saja bekerja sepanjang waktu, hari tanpa henti. Tapi ada satu hal yang sangat penting Anda perhatikan dalam aktifitas Anda, yaitu kesehatan. Ketika Anda bekerja dari pagi hingga pagi lagi, namun Anda tidak mampu menjaga kesehatan Anda dengan baik. Hal itu akan sangat berdampak buruk bagi diri Anda dan usaha Anda.
4. Memiliki jasa atau produk yang unik?
Kebanyakan entrepreneur memiliki segudang ide, dan kebanyakan belum dipikirkan orang lain. Namun mengalami dilema tidak tahu mana yang harus dipilih. Triknya adalah mencari satu ide yang benar-benar menjanjikan dan memiliki disiplin untuk tidak memilih ide yang lain. Dan tentu saja “action” memegang peranan penting disini. Ide secanggih apapun ketika Anda tidak memiliki action, hal itu tidak berarti apapun.
5. Mau melakukan pengorbanan saat ini untuk kesuksesan jangka panjang
Jangan heran ketika orang-orang di sekitar Anda mulai bertanya “apa kamu masih waras?” Karena mereka melihat kehidupan Anda tidak seperti orang normal, jam kerja tidak teratur, mereka mungkin benar, tetapi Anda tahu bahwa Anda melakukannya untuk kesuksesan jangka panjang. Tetapi ingat pepatah “berakit rakit ke hulu, berenang renang ketepian. Bersakit sakit dahulu dan bersenang senang kemudian”. Begitulah gambaran yang cocok untuk kita yang memilih untuk sukses dan mau untuk jatuh disaat sekarang.
6. Memiliki kejujuran dan integritas
Seringkali kita memiliki partner atau rekan kerja tanpa kontrak secara legal. Ini dikarenakan Anda harus bergerak cepat, dan pada akhirnya Anda tidak punya landasan hukum jika terjadi sesuatu. Maka, Anda harus bekerja dengan sesorang yang jujur dan memiliki integritas. Artinya, Anda sendiri mutlak harus memiliki kejujuran dan integritas tinggi.
7. Memiliki visi jauh ke depan, tetapi punya kemampuan untuk fokus pada apa yang Anda lakukan saat ini
Seorang entrepreneur adalah campuran dari : seorang pemimpi, seorang yang kadangkala tidak realistis, dan punya keinginan kuat untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Anda harus fokus pada apa yang Anda lakukan saat ini sambil melihat ’sesuatu yang besar’, serta seringkali mengabaikan istirahat. “Fokus pada apa yang Anda lakukan saat ini” adalah hal-hal rutin yang harus Anda siapkan untuk bertahan dalam dunia bisnis seperti membuat proposal, mempresentasikan project, melobi partner dan melakukan penagihan project. “Memiliki visi jauh ke depan” adalah apa yang akan Anda bangun 10 tahun dari sekarang. Kita tidak tau apa yang terjadi minggu ini, bulan depan, apalagi setahun kedepan. Waktu kedepan sama sekali kita tidak tau. Namun, kelanjutan tren jangka panjang sebenarnya dapat dilihat, walaupun waktu persisnya kita tidak tahu.
8. Percaya diri sebagai seorang entrepreneur dan bangga terhadap visi
Tunjukkanlah bahwa Anda bangga terhadap visi Anda. Dengan demikian orang-orang yang percaya kepada visi Anda akan datang mendekat. Ketika Anda masih terlihat ragu dan kurang percaya diri terhadap kemampuan dan visi yang Anda miliki. Maka orang lain juga akan menjadi ragu dan cenderung tidak mendukung Anda.
9. Disiplin
Ini sangat erat kaitannya dengan banyak sifat di daftar ini, Anda harus disiplin dalam memperhatikan kesehatan (nomor 2), maka Anda bisa bekerja keras (nomor 3), jadi Anda bisa fokus pada satu produk atau jasa yang telah Anda pilih (nomor 4).
10. Siap untuk bilang, “saya tidak tahu, tapi akan saya pikirkan.”
Entrepreneur harus seorang generalist. Mereka menguasai satu hal dengan sangat baik, tetapi ia harus tahu tentang banyak hal lainnya. Karena terkadang ia harus melakukan semuanya sendiri, seperti pembukuan, merekrut orang, melakukan penjualan, entrepreneur juga harus memiliki kemampuan mengambil keputusan yang baik, misalnya harus menggaji staf accounting orang yang benar untuk melakukan pekerjaan tersebut

Sumber : http://mediabisnisonline.com/10-ciri-seorang-enterpreneur-sukses/

TUGAS KEWIRAUSAHAAN 2

TUGAS 2 KEWIRAUSAHAAN
TUGAS SOFTSKILL KEWIRAUSAHAAN
WAWANCARA DENGAN PEMILIK USAHA FURNITURE
Disusun Oleh:


                 Nama                         : Dimas Khameswara
             NPM                          : 32411119
             Kelas                         : 4ID01       
             Dosen Softskill           : Dr. Budi Hermana







JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2014



Saya Dimas Khameswara satu dari sekian banyak  mahasiswa jurusan teknik industri gunadarma 2011. Dalam semester 7 ini, saya mendapati tugas softskill dimana saya harus mewawancarai seorang enterpreneur (pemilik usaha), untuk mengerjakan tugas softskill tersebut saya memilih untuk mewawancarai seorang pemilik usaha furniture (Jaya Furniture) berlokasi di Tanah Baru No.22 Tugu Beji, yang kebetulan berkaitan dengan tempat pembuatan produk matkul PTI APU. Pemilik usaha furniture tersebut bernama Bily asal Ciamis yang akrab saya panggil dengan A Bily. Berikut merupakan beberapa pertanyaan yang saya berikan untuk A Bily. S; Saya dan AB; A Bily
WAWANCARA
S               : Apa yang membuat A Bily memilih untuk
menekuni usaha furniture ini?
AB               : Ya karena bapak saya dulunya seperti ini dan
                           saya juga suka ikut-ikut bantu bapak saya, jadi
                     saya punya kepengen gitu untuk membuat
          usaha furniture seperti bapak saya.
S               : Sudah berapa lama memangnya A, Aa
                     menekuni usaha ini khususnya daerah sini?
AB           : Kalo di daerah sini sih saya baru 1th, tapi kalo
                    di kampung sudah lama.
S               : Berapa penghasilan Aa dalam sebulan
                    menekuni usaha ini?
AB           : Tergantung ya, kadang ya 4jt, kadang ya bisa
                    sampe 6jt, gimana sepi enggaknya sih dek kalo
                    usaha kaya gini mah.
S               : Lalu, berapa modal yang Aa habiskan untuk
                    membangun usaha ini?
AB           : Modal yang saya pake teh kalo diitung-itung
                    abis 20jt-an, tau sendiri sewa ruko ini mesti
                 dibayar setahun gak bisa sebulan-sebulan,
                 belum listrik, belum aer.
S               : Bagaimana cara A Bily mempertahankan usaha
                 ini agar pelanggan tidak lari kemana-mana?
AB           : Ya itu tadi, kita kudu mendengar apa yang
                    mereka mau, kita harus melakukan dengan
                     sebaiknya, tepat waktu kalo janjian, dll.

Jumat, 29 November 2013

Artikel Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah dengan bentuk ragam bahasa

Artikel Ilmiah, Artikel Semi Ilmiah, dan Artikel Non Ilmiah
KARYA ILMIAH

Penelitian menurut Sekaran (2003)  didefinisikan sebagai upaya yang terorganisir dan sistematis untuk menginvestigasi  masalah spesifik yang membutuhkan suatu solusi. Penulis lainnya mendefinisikan penelitian sebagai sebuah proses investigasi ilmiah terhadap sebuah masalah yang dilakukan secara terorganisir, sistematik, berdasarkan pada data yang terpercaya, bersifat krtikal dan objektif yang memiliki tujuan untuk menemukan jawaban atau pemecahan atas satu atau beberapa masalah yang diteliti. Hasil  dari penelitian tersebut dituangkan dalam karya tulis ilmiah (Ubaya, 2013).
Karya  tulis ilmiah atau tulisan akademik atau tulisan argumentasi merupakan gabungan narasi, deskripsi, dan eksposisi  yang penulisannya didasarkan pada suatu penalaran atau logika  tertentu, didukung bukti (evidence), dan disertai dengan argumen. Penalaran atau logika berhubungan dengan keabsahan penarikan kesimpulan, sedangkan argumen berhubungan dengan kebenaran premis yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan. Tulisan argumentasi bertujuan untuk mengubah sikap dan pendapat orang lain dengan menggunakan prinsip-prinsip logika sebagai alat bantu utama (Ubaya, 2013). 
Beberapa hal penting yang harus  diperhatikan oleh penulis dalam membuat tulisan argumentasi: (1) mendasarkan pada fakta/informasi, bukti, dan konstelasi faktual/informasi; (2) mempertimbangkan pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat yang bertentangan; (3) mengemukakan pokok persoalan dengan jelas; (4) menyelidiki persyaratan-persyaratan yang masih diperlukan; (5) mengandung kebenaran; (6) menghindari penggunaan istilah yang dapat menimbulkan prasangka; (7) memberikan batasan pada istilah yang dapat menimbulkan ketidak sepakatan (Ubaya, 2013).

Karakteristik Karya Ilmiah:
Sebuah karya tulis disebut sebagai karya ilmiah apabila karya tersebut memenuhi beberapa karakteristik. Davis dan Cosenza (1993) menyebutkan enam karakteristik yang meliputi: (1) logis, (2) konseptual-teoritis, (3) kritis-analitis, (4) obyektif, (5) empiris, dan (6) sistematis. Sedangkan Sekaran (2003) mengidentifikasikan delapan karakteristik, terdiri dari (1) kejelasan tujuan (purposiveness), (2) tingkat kehati-hatian (rigor), (3) teruji (testability), (4) kemampuan untuk diulang (replicability), (5) ketepatan dan kepercayaan (precision and confidence), (6) objektif (objectivity), (7) kemampuan untuk digeneralisasi (generalizability) dan (8) penyederhanaan (parsimony) (Ubaya, 2013). 

Jenis-Jenis Karya Ilmiah
Karya ilmiah berbasis penelitian meliputi karya ilmiah mengikuti paradigma kuantitatif (mainstream) dan kualitatif (non-mainstream). Sedangkan karya ilmiah berbasis nir-penelitian meliputi: laporan kerja praktik, laporan desain dan laporan aplikasi. Skripsi nir-penelitian merupakan karya tulis ilmiah yang tidak didasarkan pada kegiatan penelitian. Skripsi nir-penelitian dapat mengambil bentuk hasil rancangan, hasil aplikasi/implementasi, laporan kerja praktik atau magang. Karya ini dapat dikategorikan sebagai karya ilmiah apabila memenuhi persyaratan kebenaran ilmiah. Teori kebenaran yang dapat digunakan sebagai landasan untuk ketiga jenis karya tulis ini adalah teori kebenaran koherensi dan pragmatisme. Koherensi mengandung arti bahwa suatu pernyataan  atau temuan dianggap benar apabila pernyataan atau temuan tersebut konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang masih dianggap benar. Sedangkan pragmatisme berarti pernyataan atau temuan dianggap benar apabila pernyataan atau temuan tersebut bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak (Ubaya, 2013).

KARYA SEMI ILMIAH

Karya semi ilmiah adalah sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisananya pun tidak seformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan karangan non-ilmiah. Mkasud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak digunakan misalnya dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman, dan cerpen.
Ciri-ciri Semi Ilmiah meliputi; penulisannya berdasarkan fakta pribadi, fakta yang disimpulkan bersifat subjektif, gaya bahasa formal dan popular, lebih mementingkan diri penulis, melebih-lebihkan sesuatu, usulan-usulan bersifat argumentatif, dan bersifat persuasif.

Contoh Karangan Semi Ilmiah:
Jabodetabek Tidak Lagi Menarik
            Bogor- Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi adalah pilihan investor di bandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Kendati luas 0,03 persen dari luas wilayah nasional, pada tahun 2009, kawasan ini menyumbangkan 25,78 persen dari produk domestic regional bruto nasional. Selaintu dorongan dari pemerintah melalui Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) juga menetapkan jabotabek sebagai lokasi investasi terbesar.
            Dalam jangka panjang Jabodetabek bisa tidak lagi menjadi menarik  bagi investor. Hal ini disebabkan akumulasi dari penurunan daya dukung lingkungan serta tidak meratanya akses terhadap aktivitas ekonomi yang meningkatkan kemiskinan, kriminalitas, dan konflik social. Pertumbuhan lahan terbangun di Jabodetabek yang tidak terkendali mengonversi kawasan pertanian dan kawasan lindung sehingga membuat daya dukung kawasan menurun,
            Hal itu, antara lain, terlihat dari luas ancaman banjir di kawasan Jabodetabek yang terus menaik pada tahun 2000, sebanyak 102 desa di Jabodetabek yang terkena banjir, tahun 2008 sudah mencapai 644 desa terkena banjir. Selain itu infrastruktur juga tidak efisien sehingga menimbulkan kemacetan dan kekumuhan yang semakinparah setiap tahun.
            Sebaiknya pemda kawasan Jabodetabek meningkatkan infrastruktur yang efesien dengan menghilangkan titik lokasi yang terkena banjir, membuat resapan air yaitu penanaman pohon atau  pembuatan sumur resapan untuk mengurangi laju luncuran air kepermukaan dan pemerintah daerah lebih meningkatkan infrastruktur jalur kendaraan agar kemacetan bisa di tuntaskan dengan memberikan lahan parkir, pelalan kaki, pedagang kaki lima. Menghilangkan kekumuhan dengan mendatangi dan memberi pengarahan kepada masyarakat akan pentingnya lingkungan.
            Dengan infrastruktur yang bagus maka kawasan Jabodetabek akan selalu menarik investor dan memperbaiki aktivitas ekonomi. Selain itu bisa memberi contoh kepada daerah lain untuk meningkatkan daya tarik investor, agar setiap daerah berkembang dan juga mengurangi kemiskinan (Kompas, 2013).

KARYA TULIS NON ILMIAH
Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal) (Upi, 2013).
            Ciri-ciri Karya Tulis Non Ilmiah maliputi ditulis berdasarkan fakta pribadi, fakta yang disimpulkan subyektif, gaya bahasa konotatif dan populer, tidak memuat hipotesis, penyajian dibarengi dengan sejarah, bersifat imajinatif, situasi didramatisir, bersifat persuasif, tanpa dukungan bukti. Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah adalah dongeng, cerpen, novel, drama, dan roman (Upi, 2013).

ANALISIS ARTIKEL

Dari pembahasan mengenai Karya Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah, serta contoh artikel yang terdapat di atas berupa artikel Semi Ilmiah, karena memiliki cicri-ciri sebagai berikut penulisannya berdasarkan fakta pribadi, fakta yang disimpulkan bersifat subjektif, gaya bahasa formal dan popular, lebih mementingkan diri penulis, melebih-lebihkan sesuatu, usulan-usulan bersifat argumentatif, dan bersifat persuasif, ciri tersebut memenuhi kriteria sebagai penulisan karya semi ilmiah.


DAFTAR PUSTAKA


Peran dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Ragam Tulis

Peranan dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam Ragam Tulis

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
        Bahasa merupakan kunci untuk membuka wawasan dan pengetahuan. Hanya dengan bahasalah kita dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Walaupun bahasa Indonesia sudah berperan sebagai alat persatuan tetapi belum dapat berperan sebagai pengantar ilmu pengetahuan. Hal tersebut mengharuskan kita menerjemahkan semua buku ilmu pengetahuan di dunia ini ke dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya informasi ilmiah dalam bahasa Indonesia tersebut, pasti akan ada kemajuan di bidang ilmu pengetahuan yang berarti meningkatkan mutu bahasa indonesia sebagai bahasa ilmiah. Bahasa dipakai sebagai alat mengungkap gagasan dan pikiran. Dengan begitu bahasa adalah alat komunikasi sekaligus alat untuk memahami isi dari komunikasi itu sendiri. Komunikasi antar-orang, termasuk komunikasi ilmuwan terhadap fenomena alam dan fenomena kebudayaan.
        Definisi lain, Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey (1986:12).
                   Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
Lain halnya menurut Owen dalam Stiawan (2006:1), menjelaskan definisi bahasa yaitu “language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols” (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
        Pemenuhan kaidah kebahasaan merupakan ciri utama dari bahasa keilmuan. Oleh karena itu, aspek kebahasaan dalam karya ilmiah sebenarnya adalah memanfaatkan kaidah kebahasaan untuk mengungkapkan gagasan secara cermat. Kaidah ini menyangkut struktur kalimat, diksi, perangkat peristilahan, ejaan, dan tanda baca. Manusia menggunakan bahasa sesuai dengan yang dia ketahui dan yang dirasakan guna menyampaikan gagasan atau menerima gagasan, pemberitahuan, keluh-kesah, pernyataan menghormat, bersahabat, atau pernyataan permusuhan dari orang lain. Siapa dia berkomunikasi dengan siapa, tentang hal apa, di mana, untuk tujuan apa dengan cara bagaimana.
        Dengan demikian, cara orang mengekspresikan gagasan terkait dengan masalah-masalah di luarnya seperti kesadaran atas status sosial dan tradisi yang berlaku dan diberlakukan. Lewat bahasa yang diketahui, gagasan dan pikiran diformulasi menjadi serangkaian konsep kebahasaan. Konsep bisa berupa kata atau istilah (construct). Kursi misalnya, adalah kata yang artinya “tempat duduk”. Karena berarti demikian maka kursi difungsikan untuk diduduki, tidak dipanggul. Kalau dipanggul, pasti ada penjelasan lain, misalnya dilakukan oleh sejumlah kuli-kasar untuk dibawa masuk ke rumah, ke mobil cup terbuka.
       Karena kursi berfungsi sebagai tempat duduk, maka muncul makna baru dari kata kursi itu, misalnya kedudukan. Misalnya adanya ungkapan: “Para anggota DPR (mohon maaf untuk tidak dibaca wakil-wakil rakyat) bersitegang untuk memperebutkan kursi ketua komisi. Kata “kursi” di sini merupakan kata lain dari “kedudukan sebagai”. Sedang bersitegang adalah suasana yang muncul dengan tanda-tanda tertentu, misalnya saat berbicara tangannya digebrakkan ke meja, atau berbicara sambil merebut mik ketua sidang dsb.
        Bahasa Indonesia dikenal sebagi bahasa aglutinatif. Artinya, kosakata dalam bahasa Indonesia dapat ditempeli dengan bentuk lain, yaitu imbuhan. Imbuhan mengubah bentuk dan makna bentuk dasar yang dilekati imbuhan itu .Karena sifat itulah, imbuhan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Dengan demikian, sudah selayaknyalah, sebagai pemakainya kita memiliki pengetahuan mengenai ini.
       Kemampuan berbahasa yang baik dan benar merupakan persyaratan mutlak untuk melakukan kegiatan ilmiah karena bahas merupakan sarana komunikasi ilmiah pokok. Tanpa penguasaan tata bahasa dan kosakata yang baik akan sulit bagi seorang ilmuan untuk mengkomunikasikan gagasannya kepada pihak lain. Dengan bahasa selaku alat komunikasi, kita bukan saja menyampaikan informasi tetapi juga argumentasi, dimana kejelasan kosakata dan logika tata bahasa merupakan persyaratan utama.

B.   Rumusan Masalah
       Rumusan Masalah yang akan dibahas meliputi Peran dan Fungsi Bahasa Indonesia dalam ragam tulis.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
       Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mempunyai fungsi khusus yaitu sebagai bahasa resmi kenegaraan, sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, sebagai bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah, dan sebagai alat pengembangan kebudayaan, IPTEK.
       Kedudukan bahasa adalah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya yang dirumuskan atas dasar nilai sosial yang dihubungkan bahasa yang bersangkutan. Mengapa kedudukan bahasa Indonesia perlu dirumuskan? Perumusan kedudukan bahasa Indonesia diperlukan oleh karena perumusan itu
memungkinkan kita mengadaan pembedaan antara kedudukan bahasa Indonesia pada satu pihak dan kedudukan bahasa-bahasa lain, baik bahasa daerah yang hidup sebagai unsur kebudayaan kita maupun bahasa-bahasa asing yang dipakai di Indonesia. Kekaburan yang yang terdapat di dalam pembedaan kedudukan antara bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain itu bukan saja merugikan bagi perkembangan dan pembakuan bahasa Indonesia, tetapi juga dapat menyebabkan terjadinya kekacauan di dalam cara berpikir pada ana-anak kita (Suhendar dan Supinah, 1997).
       Selanjutnya, Suhendar dan Supinah (1997) mengatakan bahwa salah satu  akibat yang dapat ditimbulkan oleh kekaburan pembedaan kedudukan itu adalah mengalirnya unsur-unsur bahasa yang pada dasarnya tidak diperlukan. Sehingga, pembedaan kedudukan bahasa memungkinkan kita mengatur masuknya unsur-unsur baru dari bahasa-bahasa lain itu sedemikian rupa sehingga hanya unsur-unsur yang benar-benar dibutuhkan untuk memperkaya bahasa nasional kita sajalah yang kita terima. Namun, meniadakan sama sekali masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia tidak mungkin dilakukan karena suatu kenyataan bahwa apabila dua bahasa atau lebih dipergunakan di dalam masyarakat yang sama, maka terjadilah apa yang disebut kontak bahasa, yang mau tidak mau mengakibatkan hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi. Dengan demikian, yang perlu dilaksanakan adalah pengaturan hubungan timbal balik itu sedemikian rupa sehingga terjadi
kepincangan di dalam perkembangan bahasa yang bersangkutan, dan sehingga
masing-masing bahasa itu tetap mempertahankan identitasnya masing-masing.
       Pentingnya peranan bahasa Indonesia itu, antara lain bersumber pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Selain itu, ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara pada tanggal 18 Agustus 1945, dan dinyatakan dalam UUD 1945 bab XV, pasal 36.
       Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1998) dinyatakan bahwa masih ada beberapa alasan lain (selain yang telah dikemukakan di atas) mengapa bahasa Indonesia menduduki tempat yang terkemuka di antara beratus-ratus bahasa Nusantara yang masing-masing amat penting bagi penuturnya sebagai bahasa ibu.  Pertama, jumlah penuturnya. Jumlah penutur bahasa Indonesia mungkin tidak sebanyak bahasa Jawa atau Sunda, tetapi jika pada jumlah itu ditambahkan penutur dwibahasawan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama atau bahasa kedua, maka kedudukannya dalam jumlah penutur berbagai bahasa di Indonesia ada di peringkat pertama. Lagi pula, jumlah penutur asli bahasa Indonesia lamba-laun pasti akan bertambah. Kedua, luas penyebarannya. Bahasa Indonesia jelas tidak ada yang menandingi penyebarannya di Indonesia. Sebagai bahasa setempat, bahasa Indonesia dipakai orang di daerah pantai timur Sumatera, daerah pantai Kalimantan. Jenis kreol bahasa Melayu-Indonesia didapati di Jakarta dan sekitarnya. Sebagai bahasa kedua, tersebar dari Sabang sampai Merauke atau dari ujung barat sampai ke timur; dari pucuk utara sampai ke batas selatan negeri kita. Sebagai bahasa asing, bahasa Indonesia dipelajari dan dipakai di anatara kalangan terbatas di beberapa negara misalnya di Australia, Filipina, jepang, Korea, Rusia, India dan sebagainya. Ketiga, peranannya sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budaya lain yang dianggap bernilai. Patokan yang ketiga ini mengingatkan kita akan seni kesusastraan yang mengagumkan yang dihasilkan dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Minangkabau, misalnya. Akan tetapi, di samping susastra Indonesia modern yang dikembangkan olesastrawan yang beraneka ragam latar bahasanya, bahasa Indonesia pada masa kini berperan juga sebagai sarana utama, di luar bahasa asing, di bidang ilmu, teknologi, dan peradaban modern bagi manusia Indonesia.  3 - 18  Unit 3
       Menurut tiap-tiap patokan yang diajukan, bahasa Indonesia melebihi bahasa daerah yang lain. Untuk itulah, sudah sangat wajar jika bahasa Indonesia salah satu kedudukannya adalah sebagai bahasa nasional. Kedudukan sebagai bahasa nasional ini dimiliki sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. 
       Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
  1. Lambang kebanggaan kebangsaan;
  2. Lambang identitas nasional;
  3. Alat memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia; dan
  4. Alat perhubungan antar daerah dan antar budaya.
       Sebagai lambang kebanggaan, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Dengan melalui bahasa nasionalnya, bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang dijadikan pegangan hidup. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia  perlu kita pelihara dan kita kembangkan pemakaiannya. Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia kita junjung di samping bendera dan negara kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri pula, sehingga ia seraasi dengan lambang kebangsaan kita yang lain. Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya sendiri hanya apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga ia bersih dari unsur-unsur bahasa lain, terutama bahasa asing.
       Sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda ke dalam satu kesatuan yang bulat, bahasa Indonesia memungkinkan berbagai-bagai suku bangsa itu mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan. Bahkan, dengan bahasa nasional kita, kita dapat meletakkan kepentingan nasional jauh di atas kepentingan daerah atau golongan.
       Fungsi keempat bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional adalah bahasa Indonesia sebagai alat perhubungan antar daerah dan antar budaya. Berkat adanya bahasa nasional kita, kita dapat berhubungan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kesalahfahaman sebagai akibat perbedaan latar belakang sosial budaya dan bahasa dapat dihindari. Dengan demikian, fungsi keempat ini, latar belakang sosial budaya dan latar belakang kebahasaan yang berbeda-beda tidak akan menghambat adanya perhubungan antar daerah dan antar budaya (Suhendar dan Supinah, 1997).
       Dalam UUD 1945 bab XV, pasal 36, telah ditetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara. Dengan demikian, selain berkedudukan sebgai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai
berikut.
  1. Bahasa resmi kenegaraan
            Dalam kaitannya dengan fungsi ini bahasa Indonesia dipergunakan dalam adminstrasi kenegaraan, upacara atau peristiwa kenegaraan baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan, komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat. Dokumen-dokumen dan keputusan-keputusan serta surat-menyurat yang dikeluarkan oleh pemeritah dan badanbadan kenegaraan lain seperti DPR dan MPR ditulis di dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato, terutama pidato kenegaraan, ditulis dan diucapkan di dalam bahasa Indonesia. Demikian halnya dengan pemakaian bahasa Indonesia oleh warga masyarakat kita di dalam hubungannya dengan upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan.
       Suhendar dan Supinah (1997) menyatakan bahwa untuk melaksanakan fungsinya sebagai bahasa resmi kenegaraan dengan sebaik-baiknya, pemakaian bahasa Indonesia di dalam pelaksanaan adminstrasi pemerintahan perlu senantiasa dibina dan dikembangkan, penguasaan bahasa Indonesia perlu dijadikan salah satu faktor yang menentukan di dalam pengembangan ketenagaan seperti penerimaan karyawan baru, kenaikan pangkat baik sipil maupun militer, dan pemberian tugas-khusus baik di dalam maupun di luar negeri.
     2.    Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan  3 - 20  Unit 3
Sebagai bahasa pengantar, bahasa Indonesia dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan baik formal atau nonformal, dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.  Masalah pemakaian bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa pengantar di segala jenis dan tingkat pendidikan di seluruh Indonesia, menurut Suhendar dan Supinah (1997), masih merupakan masalah yang meminta perhatian. 

   3.    Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah
       Dalam hubungannya dengan fungsi ini, bahasa Indonesia tidak hanya dipakai sebagai alat komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat luas atau antar suku, tetapi juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang keadaan sosial budaya dan bahasanya sama.
 
4.    Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi
       Dalam kaitan ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki identitasnya sendiri, yang membedakannya dengan bahasa daerah. Dalam pada itu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, baik dalam bentuk penyajian pelajaran, penulisan buku atau penerjemahan, dilakukan dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian masyarakat bangsa kita tidak tergantung sepenuhnya kepada bangsa-bangsa asing di dalam usahanya untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta untuk ikut serta dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terkait dengan hal itu, Suhendar dan Supinah (1997) mengemukakan bahwa bahasa Indonesia adalah atu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang membedakannya dari kebudayaan daerah.


DAFTAR PUSTAKA


Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Keraf, Gorys. 1978. Tata Bahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah
Suhendar dan Supinah, Pien. 1997. Seri Materi Kuliah MKDU: Bahasa
Indonesia (Kebahasaan). Bandung: Pionir Jaya
Zuchdi, Darmiati dan Budiasih. 1997. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
di Kelas Rendah. Jakarta: Depdikbud
http://ai3.itb.ac.id/~basuki/usdi/TPB-kuliah/materi/…/tatatuliskaryailmiah.ppt

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/06/agus_buku_ajar.pdf